Home

Previous 20

Nov. 1st, 2007

muka

Andung dan web 2.0

Dulu adik saya pernah membuat postingan di blog-nya tentang Andung (Andung adalah sebutan saya untuk nenek dalam bahasa Padang). Dari kedelapan anaknya (ibu saya anak ketujuh), Andung memiliki lebih dari 20 orang cucu dan 6 orang buyut (kalau saya tidak salah menghitung ya...). Seharusnya Andung menjadi nenek yang bahagia banget karena walau telah lama ditinggal Kakek kami, cucu-cucunya banyak buanget.

Tapi Andung dan almarhum Kakek saya itu dua-duanya punya jiwa perantau. Andung hijrah dari tanah padang dahulu kala waktu kawin dengan kakek saya(alm), sementara kakek saya(alm) yang asli jawa itu juga suka berpindah-pindah kota. Walhasil, anak-anak Andung pun jiwa merantaunya kuat. Dari delapan anaknya, tinggal empat yang masih tinggal di Bandung (salah satunya Ibu saya), sisanya terbagi di Jakarta dan Melbourne. Cucu-cucu Andung pun sama saja, Jakarta, Melbourne, Singapore. Akhirnya, kesempatan Andung 'menikmati' cucu-buyutnya yang buanyak itu hanya sebatas lebaran.

Seperti kata adik saya di blog-nya, lebaran pun makin ke sini makin tidak seramai dahulu lagi. Ya maklum lah boook... tiket pesawat Melbourne-Singapore-Jakarta-Bandung gitu loooh... Satu orang aja udah sesek nafas bayarnya, kebayang satu rombongan keluarga Kamarga... Lebaran kemarin saja, Andung hanya dikunjungi oleh empat keluarga; keluarga Uak Pop, keluarga Oom Irawan, Uak Elda, dan Ibu-Ayah saya. Sebenernya enggak sepi-sepi amat sih... tapi kalau dibandingin lebaran beberapa tahun yang lalu sih... jauuuh...

DSC00269
Andung dan Ayah saya, Lebaran 2007 di Cipaku

Jauh. Bandung-Melbourne memang jauh. Bandung-Singapore juga. Bandung-Jakarta yang deket aja juga terasa jauh buat Andung, soalnya cucunya yang satu ini (saya) suka (sok) sibuk jarang pulang ke Bandung, ngejer setoran iklan tayang.

Perasaan bersalah suka muncul kalau saya mengunjungi Andung, yang kerap menyambut saya dengan ucapan "Kok jarang kelihatan?" selain "Aduh kamu kok kurus banget" dan "Jadi kapan Andung bisa punya buyut lagi?". Sedikit 'sogokan' coklat kesukaan Andung yang kerap saya bawa kurang mempan menghapus rasa bersalah ini.

Beberapa lebaran yang lalu, Andung pernah 'diungsikan' ke tempat Uak Pop karena sakit. Jadinya pos lebaran yang biasanya di Cipaku no.10 berpindah ke Berantas no.7. Waktu itu pesertanya lumayan banyak. Ada Yana yang lagi liburan dari Belanda, Thalia yang liburan dari SIngapore, juga masih ada almarhum Uak Iman. Ketika saya tiba di Berantas, semua orang lagi pada sibuk nge-set up laptop-nya Uak Pop.

DSC06477
Lebaran di Jalan Brantas, 2004.

Jadi, Andung itu kan udah kehilangan pendengarannya 100 persen, tapi matanya masih cukup baik untuk membaca (asal besar dan jelas). Seseorang yang idenya saya acungkan jempol memasang yahoo! messenger plus live web cam supaya Andung bisa chatting dengan para sanak saudara di Melbourne. Nggak cuma chatting, tapi juga bisa dadah-dadahan lewat web cam. Walau pembicaraannya ringan sebatas ngebandingin ketupat di melbourne sama ketupat di brantas dan kualitas gambar di web-cam itu agak nge-drop, Andung tetep terlihat bahagia karena bisa "ngobrol" sama anak-cucu-buyut-nya di sana. Waktu itu sih saya cuma kepikiran "wah, ini kalo dibikin jadi iklan telco, scene-nya touchy banget nih..." (dasar org iklan ndablek!)

DSC06474
Andung lagi chatting pake Yahoo! M

Lebaran-lebaran berikutnya kembali diadakan di Cipaku, dan makin lama memang makin sepi pengunjung. Yang biasanya mengupdate Andung tentang kabar sanak-keluarga terbaru salah satunya adalah Ibu saya, yang suka mampir di Cipaku kalau pulang ngantor. Karena Thalia di Singapore aktif mengupdate foto-foto Aina, anaknya yang baru lahir di blog-nya, Ibu saya juga suka membawakan print-out foto-foto Aina supaya Andung bisa ikut liat buyutnya.

Ide itu kadang datengnya enggak terduga ya. Kadang dia ada di depan mata kita, tapi kitanya terlalu ndableg buat menyadarinya. Saya yang lagi kecanduan bersosialisasi online web dua nol (lewat blogging lah, facebook lah, twitter lah, flicker lah, youtube lah) ini kok ya nggak nyadar-nyadar bahwa sebenernya ada cara yang praktis supaya Andung tetep keep in touch sama anak-cucu-buyutnya...

Ya lewat blog, dodol! (ujar saya sambil nepuk jidat keras-keras...ouch!)

Sama aja kan seperti Ibu saya atau Aldo yang setia membaca postingan blog saya ini (yang makin lama makin jarang diupdate hehehe). Bukan karena saya tuh penulis hebat atau apa... tapi reason-nya sama juga dengan kesetiaan saya membaca blog Ibu, adik saya, Thalia, Wanda, Uak Pop, atau sepupu-sepupu saya yang lain. Semua itu karena kebutuhan manusia yang paling dasar...

Kebutuhan untuk keep in touch.

Keep in touch tanpa extra effort untuk berinteraksi secara langsung (nelfon, sms, nulis surat/email, etc). Keep in touch dengan mengupdate hal yang paling basic dari diri kita semua. What's up? Apa kabar? Apa yang lagi kamu pikirin? Kamu lagi sibuk ngapain? Kamu lagi pengen apaan? Kamu baru ketemu siapa? Anak kamu udah bisa apa aja? Satu cerita yang sama, tanpa harus diulang-ulang. Itu kan salah satu essence yang paling utama dari blogging?

Jadi bayangin kalo Andung bisa mengisi hari-harinya dengan membaca blog kita semua ini ... Bisa ikutan liat foto-foto yang ngegambari hari-hari kita, bisa ikutan ngerasain perasaan apapun yang lagi kita rasain. Wouldn't it be... great? Dan (moga-moga) rasa kesepian Andung karena jarang bertemu anak-cucunya yang pada jauh ini bisa terobati. Nggak cuma blog, friendster juga bisa (setau saya, Uak Pop, Yana, Yani, Noushka, Mas Adri, Demmy, Miko, Uak Dodi, Prissy juga ada di friendster)


Hidup Web 2.0!

Waktu di Bandung kemarin saya cerita ke Ibu saya soal ide saya ini dan Ibu saya pun excited banget. Untungnya di rumah Andung sekarang udah ada PC yang dipakai oleh Rina,sekertarisnya Andung yang ngebantuin ngelola file-file pentingnya Andung. Tinggal pasang internet connection, Andung bisa dibantu oleh Rina atau Ibu saya buat ngebuka blog-blog kita ini (mungkin nanti saya usulin register RSS feed bloglines aja biar gampang), bisa didaftarin account di friendster, bahkan kenapa enggak Andung sekalian dibikinin blog juga (hmmm... tapi ini mungkin agak ribet ya karena kudu ngetik segala).

But you get the idea, right?

Jadi, gimana kalau kita mulai project Andung, plugged ini? :)

Oct. 31st, 2007

muka

Eh salah...

Pagi ini,

sebuah taxi berhenti di depan gedung produsen food and beverages nomer satu di Indonesia, membawa saya yang sedang dalam kondisi ngantuk akibat kurang tidur serta deg-degan akibat takut terlambat meeting.

Ketika sedang merogoh-rogoh dompet mencari uang, pintu taxi tiba-tiba terbuka dari luar. Sebelum saya melontarkan ungkapan rasa kaget, seorang bapak-bapak berkumis dan berbaju batik melongok ke dalam, tapi lalu bergumam "eh, salah" dan menutup pintu lagi. Terdorong rasa jengkel dan terganggu, saya mendumal, "Apaan sih? pasti gak sabaran pengen nyerobot taxi deh.."

Pas saya keluar taxi, taunya bapak-bapak itu berkata, "Maaf dik, abis adik mirip sekali dengan anak saya, kebetulan saya lagi nunggu dia...Maaf ya dik.."

Menanggapi itu saya hanya tersenyum salting tanpa berani melihat langsung ke mukanya. Dia pun berkata lagi, "Maaf ya dik... beneran loh mirip banget..."

Sekali lagi senyum kagok (tanpa melihat mukanya) saya lontarkan dan saya buru-buru berlalu. Di perjalanan menuju ke delam gedung saya berpikir, kenapa saya harus merasa tidak enak sampai bersikap tidak sopan seperti itu? Apa salah mengira orang adalah kesalahan besar yang tidak termaafkan? Apa permintaan maaf bapak tersebut serta alasannya (yang makin dipikir-pikir lagi.... agak 'oh tayang tayang') tidak cukup untuk membuat saya tidak mendumal dan bersikap sopan?

Andai aja saya diberi kesempatan untuk me-restart kejadian itu, saya ingin tersenyum tulus sambil menatap muka si Bapak sambil bilang, "Oh enggak apa-apa, Pak...". Terlepas dari pertanyaan berikut yang muncul di kepala saya "Ngapain ya si Bapak itu nunggu anaknya di depan gedung kantor?"... saya jadi mikir tentang kurangnya kemampuan saya berhubungan dengan sesama manusia.

Terlalu banyak waktu saya habiskan untuk berkomunikasi lewat email, sms, blog, chat... Semua itu adalah ruang dimana kita diberi kesempatan untuk berpikir sebelum memberikan reaksi. Kata-kata bisa diedit sebelum menekan tombol 'send'. Di satu pihak efektif, namun di pihak lain, lihatlah penurunan skill saya dalam berhubungan langsung dengan sesama manusia. Hubungan sehari-hari dimana tidak ada control alt del atau undo yang bisa membuat kita mengedit sikap keseharian kita.

Maafkan saya ya Pak kalau saya terlanjur bersikap demikian terhadap Bapak... Oh iya, saya yakin... kalau saya mirip sama anak Bapak... pasti anak bapak cuantik buangettttt... *ngehindar dari lemparan sendal*

Jun. 11th, 2007

window

Pak Kino, in memorial

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Pak Kino,
Had been Ogilvy's employee for 30 years.
Passed away two weeks ago.

Photobucket - Video and Image Hosting
Kafe Kino.
Built in 2002, named after Pak Kino
to respect the longest working employee.

Di suatu hari Jumat siang yang cerah, ketika saya baru bangun untuk siap-siap tidur lagi (berhubung itu hari libur), serentetan sms yang saya dapat dari teman-teman saya membuat saya benar-benar terbangun.

"Telah berpulang ke hadirat Tuhan, Pak Kino, tadi pagi. Harap disebarkan ke teman-teman lain".

Bisa ditebak, langkah saya selanjutnya adalah meneruskan sms tersebut ke teman-teman yang belum menerima, sekalian menanyakan kapan pemakamannya, di mana jenazah disemayamkan, etc etc.

Idealnya, saat itu juga seharusnya saya mandi, lalu bergerak ke rumah keluarga Pak Kino menyusul beberapa orang teman saya yang sudah duluan ke sana. Tapi di kamar mandi saya cuma duduk di toilet dan seolah-olah ada tombol yang terlambat ditekan yang menyebabkan saya lalu menangis sesunggukan. Kata-kata yang keluar dari mulut cuma "Tapi kan..." "Masa sih.." "Kok bisa..." dan kata-kata tanpa makna sejenisnya.

Siapa Pak Kino?

Beliau adalah pegawai yang menduduki rekor pegawai paling lama di Ogilvy&Mather Indonesia. Dari mulai Ogilvy masih bernama Indo Ad kira-kira tiga puluh tahun silam, Pak Kino sudah mulai bekerja sebagai office boy. Tiga tahun yang silam, Pak Kino resmi dipensiunkan, bahkan Ogilvy tetap mengongkosi uang pensiun Pak Kino. Tapi beliau mendesak ingin tetap diperbolehkan 'ngantor.

Alhasil, Pak Kino tetap datang tiap hari jam setengah lima subuh (dimana rata-rata anak Creative baru mulai tidur atau masih tekun di depan komputer), dengan lap di bahu dan kemoceng di tangan menyusuri meja demi meja, membersihkan puntung rokok, mengumpulkan gelas kosong, mengisi air minum di gelas-gelas, terkadang menyapa anak-anak yang masih lembur dengan riang, "Hoaaadoooh... masih bekerja? Rajin sekaaaliii" (tambahkan logat Jawa kental di sini). Pak Kino pun masih memegang tanggung jawab penting yang menyangkut hajat hidup orang banyak, yaitu jalan ke BEJ tiap akhir bulan untuk menyetorkan gaji seluruh karyawan Ogilvy. Berita "Pak Kino baru balik dari bank" selalu disambut dengan penuh sukacita karena itu berarti kantong yang sudah kempes ini akan terisi lagi. Ya... Pak Kino masih ingin kerja di Ogilvy bahkan ketika ia sudah pensiun.

Siapa bilang cuma anak Creative yang bisa punya passion yang tinggi dengan kerjaannya?

Kembali ke hari Jumat yang cerah tersebut.

Usai menangis, saya malah naik lagi ke tempat tidur. Saya merasa terlalu lelah untuk keluar rumah. Egois? Mungkin... Bayangkan saja, saya bahkan tidak jadi menghadiri acara siraman teman saya tercinta ini sore harinya. Ketika suami saya datang, saya juga enggan tidak beranjak dari tempat tidur. Praktis hari itu kami habiskan dengan menonton DVD sambil memanfaatkan servis delivery KFC ketika lapar menyerang.

Senin pagi, ketika baru menaruh tas dan secara otomatis minum air putih yang sudah tersedia di meja, kesadaran bahwa Pak Kino sudah tidak akan saya temui lagi di tempatnya biasa ngepos tiba-tiba kembali menghantam saya. Ketika internal review, Yuwono, creative director saya berkata, "Aneh ya rasanya nggak ada Pak Kino".

Iya, aneh... ungkapan yang tepat. Semua orang akan menyahut dengan mimik prihatin bila ada duluan melempar issue dengan berkata, "Kasihan ya Pak Kino...". Tapi kehidupan di dunia perkantoran multi nasional dengan kejam dan cepat akan mengadaptasi perubahan apapun. Kegiatan tetap berjalan seperti biasa, dering telfon, musik iTunes, gumam suara dari berbagai diskusi internal, 'cetak-cetak' lembut keyboard komputer... Hampir tak ada yang berubah. Tak lama lagi pun, ketiadaan Pak Kino akan diterima sebagai hal yang memang sudah biasa.

Di sela-sela kesibukan, saya masih mengupdate blog sebagai pegangan milestone dalam hidup saya. Foto, cerita, berita. Tapi kapanpun saya berniat memposting entry tentang Pak Kino, saya seperti seorang seniman yang bengong menghadapi kanvas kosong, sekosong inspirasi di otak saya. Padahal menulis tentang beliau tak perlu inspirasi. Ini kan bukan karya tulis ilmiah, atau copy iklan yang dibuat untuk entry lomba... Ini kan cuma blog, sebuah jurnal elektronik milik seorang wanita pekerja iklan yang sudah menikah, sebuah wacana dimana para teman, kolega, maupun keluarga bisa membaca kabar terbaru seputar kehidupan saya...

Itu dia... Saya ingin bercerita tentang Pak Kino. Rasanya, uang yang saya cemplungkan ke amplop sumbangan bersama yang diedarkan Rina, sekertaris divisi creative, tak cukup mewakilkan rasa kehilangan saya pada beliau. Rasanya saya harus melakukan 'sesuatu', yang bisa mengungkapkan arti beliau bagi saya.

Tapi manakala foto-foto keceriaan di kawinan Lucky bisa saya upload dengan lancar, justru bercerita tentang Pak Kino bikin saya mandeg.

"Saya mah suka males jawabnya kalo ada yang nanya soal Pak Kino... malah sedih...", ujar Mbak Heni, pegawai yang mengelola catering makan siang di Kafe Kino, pantry kantor yang dinamai 'Kino' sejak lima tahun silam ketika Ogilvy baru dipugar interiornya, demi untuk menghormati pegawai paling lama di kantor ini.

Kurang lebih Mbak Heni menyuarakan apa yang ada di otak saya.

Karena tak tega saya membayangkan bahwa bapak-bapak Jawa periang yang kerap melampirkan lap di bahunya ini tidak akan saya temui lagi.

"Ayo yang banyak makannya... biar cepet besaaar...", itu selorohnya tiap kali saya mengambil nasi tiap makan siang di Kafe Kino.

"Mulih ke Bandung?", itu pertanyaan rutinnya tiap sebelum weekend dan suesudah weekend. Bila saya menjawab tidak, maka ia selalu menyambar, "Looooh?kasian sekaliii... suaminya gimanaaa?".

Semuanya tulus tanpa basa-basi, karena ia memang selalu 'mem-Bapak' pada semua anak di Ogilvy. Mau bos kek, mau kacung kreatif kaya saya kek, sampai office boy lain pun, tak ada yang luput dari sapaan serta celoteh riangnya.

Ketika seluruh kantor outing ke pantai, Pak Kino turut membaur di antara kami yang bercelana pendek dan tanktop ini, memanggul raket badmintonnya dengan semangat tamasya yang meluap-luap.

Malu rasanya bila ingat bahwa saya kadang suka tak sabaran kalau diajak ngobrol oleh beliau (maklum orang sibuk?), malu bila ingat bahwa sudah berkali-kali saya niat memberikan sarung buat beliau tiap Lebaran tiba, dan berkali-kali juga saya lupa (maklum orang sibuk?). Malu bila ingat saya memilih untuk tidak datang mengucapkan selamat jalan yang terakhir pada beliau...


Selamat jalan, Pak Kino...

Kami doakan agar kini Bapak bisa benar-benar 'pensiun' dan beristirahat dengan tenang di sisi-Nya.

Keceriaan Bapak akan tinggal selamanya di kenangan kami.

Amin.

Feb. 3rd, 2006

muka

Manga dan makna di dalamnya

Cowok gue punya manga library (yang gak tau artinya 'manga' bisa nyari di google).

Cowok gue udah baca beratus-ratus manga.

Cowok gue suka bilang kalo gue tuh kayak tokoh manga.

Waktu gue curhat soal keilangan passion terhadap kerjaan gue, cowok gue ngasih contoh illustrasi dari manga.

Dia bilang, sebenernya walau ada beratus-ratus cerita manga, ada satu benang merah atau kesamaan dari cerita-cerita tersebut.

Benang merah yang paling jelas adalah perjuangan (hal apapun) dari bawah hingga mencapai tahap jagoan. Kata cowok gue, biasanya bila seseorang baru meniti sesuatu (apakah itu karir, kung fu, whatever), dan ambisius, maka dia akan berusaha keras untuk jadi yang terbaik. Dia kan semakin berusaha dan berusaha dan berusaha...

Hingga akhirnya ia akan mencapai suatu titik dimana ia sadar akan kebesaran alam (teori ini namanya teori Zen). Dia akan tau bahwa alam itu besar banget, sehingga gak akan mungkin ia bisa menyaingi kebesaran alam tersebut. Maka, ia akan berhenti untuk berusaha untuk menjadi amat besar, instead... ia akan melakukan hal apapun yang ia lakukan itu bukan dengan ambisi, melainkan dengan sepenuh hatinya karena ia menyukai hal tersebut. Ia gak akan peduli tentang pandangan orang lain ke dia, ia gak peduli apa kata creative director dia, dia gak peduli soal award, atau pendapat media massa mengenai dirinya.

Di titik itu, dia udah ninggalin semua ego keduniawiannya.

Di titik itu, sebenernya dia udah jadi yang paling jagoan, masternya, dan dia udh menganut prinsip zen tersebut.

Gue adalah orang yang gak gitu suka dinasehatin kalo lagi depresi. Nasihat apapun buat gue kedengerannya jadi kaya preaching.

Tapi setelah taraf depresi itu lewat, kata-kata cowok gue soal teori zen itu mulai mengendap dan bisa gue olah lebih detail dan seksama (cieh...)

Dan gue mulai mengerjakan apapun itu tanpa peduli apa kata orang hasilnya. Gue cuman peduli bahwa gue suka apa yang gue kerjain ini, and therefore..gue akan ngerjain ini dengan pake hati, karena kalo elo sayang ama sesuatu/seseorang, elo akan memberikan segenap hati elo buat itu/dia kan?

Bila udahannya hasilnya ternyata dinilai jelek, maka fuck what other people said! pokoknya gue udah pake hati gue di situ. Take it or leave it! Kalo elo mau yang laen, ya gue bikin. Masih gak mau juga? mau lu apa sih? kerjain aja ndiri sana!

Cowok gue punya Manga library dan udah baca beratus-ratus manga.

Dan dia sayang ama gue, gak bosen dengerin masalah gue yang itu-ituuuu mulu. Gak jengkel (atow gak ngasi liat kalo dia jengkel?) ama gue yang keras kepala ini.

Cowok gue tu... gue sayang dia banget! :P

Jan. 30th, 2006

window

kadang2 kepanikan gue itu childish.

gue nyesel. maafin gue.

Jan. 26th, 2006

window

inget ini?

1. "Stop Poking!!!"
2. Benda-benda ramah
3. Teh tarik atau kopi?
4. Bau cet dari workshop
5. Phobo di Little Hanoi
6. Harus naik Busway
7. Permen karet Lotte
8. Mikiri Pack
9. Nonton
10. Mall festive
11. Pinguin memang lucu
12. Sushi rolls
13. Kembang api gratisan
14. Gak boleh lagi becanda norak nusuk2 pipi soalnya bisa luka
15. Berenang air panas di Gracia
16. Mr. Celup
17. Ada komik baru?
18. Jajanin gue makanan instant dong
19. Technological abuse terhadap digicam
20. Pat..pat..pat...
21. Dua anjing kamu memang gila
22. Yang satu insecure,
23. yang satunya over pe-de
24. jangan ke-toby-toby-an gitu deh
25. Norak niruin pembokat ngomong
26. Fotokopi KTP pake digicam
27. Eh, liat manenan dulu ya
28. waaa...ini murah!!!!
29. Itu sarang labah-labah?
30. Puck..puck..puck...
31. Jus manisan cina
32. COPY CAT!!!
33. Ampelas
34. Numpang tidur siang, boleh?
35. Jangan ganti2 channel pas iklan!!!
36. kenapa?
37. Kamu gak ngehormatin kerjaan gue!!
38. Punya DVD apa?
39. Hari ini kita ngapain?
40. Pengen ke tempat festive
41. Waaa..waaa...waaa...
42. Kucing itu neko
43. Kuda itu Aon
44. Kamu semua kuda namanya Aon
45. Daripada kuda kamu namanya Plekih???
46. Umi ama Yanti
47. Teh Inggris
48. ketiduran di sofa sambil nonton tipi
49. Beli DVD ke Vertex yuk?
50. Ini apa?
51. Kalo ini?
52. Yang ini apa?
53. Pengen liat petshop
54. Waa..kucing..kucing..
55. Waa..anjing..anjing..
56. Eh gue ada gosip lagi...
57. Kita ngapain sih?
58. Ngakak
59. Mau pepsi atau cola?
60. Mau jus mangga atau jambu?
61. Bakso jalan jaksa.
62. ampir di Tommy ya
63. Rosi
62. Gundam-nya Tommy
63. Epoch-nya Rosi
64. Pinkyst
65. Rambut kamu gitu lucu, kaya Pinkyst
66. Besok kita ngapain?
67. Gembok pager
68. Daaah...
69. Puck..puck..sampe besok
70. ...

Gini kalo lagi nyara cara gak corny buat bilang... Gue kangen banget ama elo!!!

Jan. 25th, 2006

nunduk

salah satu hal yg gue lakuin kalo jenuh dan butek...

Chibi di tahun ini, katanya eh katanya eh katanya loh.... )

Jan. 24th, 2006

window

(no subject)

TAI LO!!!

Jan. 23rd, 2006

muka

jangan pandang rendah kekuatan sebuah gaun.

Setting, kantor.

Chibi, yang lagi ngider dengan tampang capek dan kesel karena belom nemu jawaban dari permasalah yang dihadapinya sehubungan dengan kerjaan, atau simply karena belom dihampiri oleh inspirasi (tai ah!), menoleh karena Anggi, partnernya, memanggil dengan semangat berkobar-kobar dari mejanya Imelda.

Anggi : "FAAA!!! FAAA!!! SINIII....!!! You want to see THESE!!!"

Chibi pun mendekat dengan semangat meluap-luap.

Chibi : "Apaan sih? Reference layout? Archieve? D&AD?"
Anggi : "Bukaaan..."
Chibi : "Iklan TV bagus? Honda ya? udah liat itu sih"
Anggi dan Imelda : "BOOOOOKAAAAAN!!!"

Chibi (kerung) : "emang penting?"
Anggi : "Aduh Faa...ini cantik banget deh, buat gaun kawinan elo..."

ternyata ceritanya Imel baru ngedownload-in foto2 fashion catwalk sebesar 35 megabytes dari Voque

Image hosting by Photobucket


Chibi (setengah ngomel) : "Adooooh kelian itu ya...Cewek banget seeh!! Daripada gambar baju mending kasih gue reference layout aja deh! Lebih berguna!!!"

Anggi : "Aduh tapi look at this one Fa...It's sooo pretty..."

Image hosting by Photobucket


Chibi (masih misuh misuh) : "Mana? Coba gue li...Eh hey..hello dress!!! This one is kinda cool..."

Image hosting by Photobucket


Imelda : "Iya Fa..keren deh, simple tapi masih pake ornament gitu..manis loh..."

Chibi *udah sibuk browsing gambar2 lainnya* : "Kalo yang ini gimana Mel? Nggi?"

Anggi : "Itu menurut gue paling keren"
Chibi : "Tapi apa gak terlalu simple ya buat wedding?"
Imelda : "Bisa didesain ulang sih Fa..Coba liat yang ini.."


(inaudible dialogue)


lalu...

Chibi : "Mel...gue tarik deh foldernya dari computer elo ya..elo simpennya di mana?"

Nah loh..siapa suruh sok rajin ama kerjaan. Namanya juga cewek...Makanya jangan anggep enteng kekuatan sebuah gaun!

Lo emang ga ada matinya deh, Voque!!!

Jan. 20th, 2006

nunduk

(no subject)

YAY!!!! :D

Jan. 19th, 2006

school

(no subject)

"Gue lagi bosen sama iklan"

Nah loh.. Kalo yang ngomong ini gue, mungkin gak pa-pa. Kalo kroco lagi bosen, asal bos-nya excited, pasti ujung-ujungnya kroco bisa ketuleran excited-nya si bos.

Lha kalo yang ngomong SI BOS sendiri?

Anak buahnya apa gak bingung?

"Udah sepuluh taun gue di advertising. Bosen banget gue! Apalagi ekspektasi klien makin lama kok malah makin turun ya? Jenuh gue..."

Bukannya gue gak jenuh juga sih (sumpah ini bukan ikutan-ikutan ala 'guru kencing berdiri murid kencing berlari'). Udah dua bulan lebih gue males-malesan ngebuka bestadsontv.com, atau website-nya archieve, atau adforum, atau adcritic. Bahkan kalo ada majalah Campaign Brief baru di kantor pun kok ya gak semenarik dulu ya?

Bisa aja gue berdalih "lagi sibuk dan capek di eksekusi, gak punya waktu buat ngeliat ide-ide baru atau konsep-konsep punya orang lain"

Ah jaman dulu gue juga capek eksekusi, tapi kayaknya semangat belajar gue menggebu-gebu banget. Download-in archieve, nge-save-in TV commercial dari bestads. Kok makin ke sini makin nurun ya? Gue malah lebih demen nge-update blog gue atau bacain blog orang, atau malah browsing ke site-site yang totally gak iklan banget.

Hal ini gue brought up ke group head gue waktu appraisal kemaren. Kata group head gue sih, itu justru bagus, gue jadinya gak stuck di formula yang sama, gue ngerasa gerah dan lagi nyari sesuatu yang baru, yang fresh.

Dan di bidang creative, emang hal positif untuk enggak terjebak di comfort zone.

Lha tapi kalo cuman ngerasa gerah aja tanpa penyelesaian gemana dooong? Kan brief enggak akan dengan sabar menunggu sampai jiwa kretif gue pulih kembali dan gue gak bosen lagi ama iklan??? Deadline juga gak akan berbaik hati mundur. Kerjaan selalu akan ada, karena kerjaan yang bikin orang-orang kretif ini tetep digaji...

Liburan akhir taun udah, punya hobi lain di luar advertising udah, pacaran udah,...

Kok otak malah makin stuck?

Gue butuh hal yang inspiring!!! Dulu Tham Khai Meng yang gue puja-puja sekarang udah basi dan gak lebih cuman sekedar manusia megalomaniak kegedean ego di mata gue. Neil French emang a damn cool copywriter di jamannya, tapi kelakuan beliau yang male chauvinist berat dan bikin dia cabut dari WPP bikin gue gak respect ama dia lagi.

Bos gue yang gue kagumin..lha?!!! malah dia sekarang lagi bosen dan males kerja!!!

Gemana sih?!!!!

Jan. 18th, 2006

mata

tentang perubahan.

Akhir-akhir ini hidup gue ngalamin agak banyak perubahan.

Satu.
Anak-anak divisi Public Relation yang selama ini berlokasi tepat bersebelahan dengan divisi kreatif akan pindah ke lantai 26. Mereka bukan 'geng asik' menurut ukuran kami-kami ini di divisi kreatif. Pakaiannya korporat banget, tata bahasanya amat manner dan suka 'sok kebarat-baratan' karena ngomongnya sering pake bahasa inggris, pokoknya 180 derajat beda banget.

Tapi cewek-cewek di situ adalah pemandangan seger buat para pria 'kelaparan' di divisi ini. Dan ternyata, justru perbedaan drastis itu yang bikin suasana lebih 'kaya'. Ada bahan obrolan, ada pemandangan lain yang mengurangi kejenuhan akibat ngeliat hal yang itu lagi itu lagi.

Dan walow penuh tata krama, anak-anak PR itu sebenernya baik kok. Cewek2 yang gue suka ketemu di toilet (damn! kok gue gak inget terus ya namanya) suka ngajak gue ngobrol walow itu cuma sebates "Baju lo lucu deeh..beli di mana?". Bahkan dengan para perokok di tangga pun gue lumayan suka ngobrol, termasuk David Allan, managing director mereka, bule gay kocak yang lama di malaysia itu.

Walau masih bulan depan, gue tau gue akan kehilangan mereka sekali.


Dua.
Temen deket gue, Andy yang sama-sama suka maenan Jepang udah menjauh dari gue. Dia emang baru aja punya cewek, dan ya wajar sih kalo dia menyibukkan diri ama ceweknya itu. Cuman gue kangen aja masa-masa makan ayam taliwang hari senin malem buat tukeran gosip atau curhatan gak penting, atau usaha-usaha penculikan dia buat nyeret gue ke Papaya atau tempat hunting maenan lain.

Walow gue hepi Andy udah gak jomblo lagi, dan hepi bahwa Doan (temen Andy yang suka jalan ama kita juga) udah married ama Maria, gue kangen ama mereka semua.


Tiga.
Pinky ama Beta, temen-temen kos gue yang deketnya udah kayak sodara sendiri, bakal pindah kos tanggal 22 besok. Gue hepi karena mereka nemuin tempat baru yang lebih murah dan enak, tapi gue gak bisa ngelak kalo gue sedih dan kehilangan mereka banget. Hal-hal kecil kayak ngerokok bareng sambil nonton tv dan masak indomie di kamar Beta malem-malem pas pulang kantor sebelum rebutan siapa yang mandi duluan, obrolan-obrolan yang cewek banget yang rata-rata topiknya antara penting gak penting...

Ah..gak bisa dilukisin betapa gue akan kehilangan mereka sekali.


Empat.
Yadien, art director gokil yang hobinya pacaran sama anak SMA, baru aja cabut buat jadi art director di majalah Playboy. Walau tingkahnya yang selengean sok asik gaul abis-nya itu suka annoying, ternyata gue kehilangan "Yo Dude!"nya yang selalu setia dia lempar tiap pagi atau kecerewetan omelan-omelan dia kalo lagi bete ngelayout (SIAUL! GOKIL nih restart belom gue save!!!), atau celoteh-celoteh vulgar-nya kalau lagi memuji kaum hawa secara berlebihan.

Ah Yadien..Yadien..semoga elo hepi di Playboy ya... Semua orang memang bilang "Iya itu emang ELU banget", ketika tau elo keluar dari sini untuk pindah ke sana.


Lima.
Epek, another fellow Art Director, temen ngerokok di tangga, temen begadang, temen tereak "LIFE SUCKS!!" di jam-jam kecil dimana mata udah kecil tapi kerjaan masih segubrak, temen pinjem-pinjeman senter kalau mau ke wc yang udah gelap, temen ngobrol hati ke hati soal kerjaan, temen chatting ngomongin hal-hal yang gak bisa diomongin (padahal duduknya cuma beda dua meja doang dari gue).

Epek emang orang yang tegar menghadapi nasibnya yang berat. Tapi manusia ada batasnya, dan dia tau dimana limit dia untuk akhirnya bilang "that's it! I am outta here".

Gue gak bisa ngapa-ngapain kecuali memberikan rasa prihatin gue buat dia, sedikit support bahwa dia punya value sebagai Art Director bagus dengan passion besar di apa yang dia kerjain, dan good luck di kehidupan dia berikutnya.

Dan harapan semoga masih akan ada waktu buat kita2 yang sibuk ini untuk ngumpul2 sesama kroco advertising di Gelato atau Blok S atau nasi goreng bakti, buat ngobrolin topik yang gak pernah ada habisnya...ya hidup, ya kerjaan, ya jodoh...

I am gonna miss you, too..Pek :(


Enam.
Ario, bisa dibilang temen terdeket gue di kota metropolitan ini yang bukan temen kantor gue. Yang bisa bela-belain dateng ke kantor gue kalo gue lembur buat bawain makan malem dan nemenin gue sampe selesai kerja, sparing maen bilyar di saat suntuk ama kerjaan dengan rekor maen sampe empat jam, temen makan es krim di Gelato sebagai pengganti minum bir karena dia gak suka alkohol, atau sekedar sapaan-sapaan (kadang penting kadang enggak) di MSN di sela-sela ngelayout.

Ario itu... enggak suka duren, enggak suka nasi, enggak suka sayur, enggak suka tomat, enggak suka supir taxi rese, enggak suka pengendara motor, enggak suka alkohol, enggak suka ngerokok tapi enggak keberatan dikelilingi perokok, suka es krim, suka banget coklat, amat sangat suka es krim coklat, enggak bisa makan kalo enggak ada sambel botol ABC (bisa disubstitute ama tabasco), suka bilyar, addicted to his guitar, dedicate himself to music, sangat suka sama tipe mbak-mbak katoran hitam manis bermata bagus yang bisa nyanyi (kalo bisa sih Islam, sayangnya kebanyakan yang dia temuin itu Kristen sampe kita pernah ngebahas jangan2 ada sesuatu yang salah ama mbak-mbak cewek kristen itu), suka nulis di blog-nya, suka benerin spelling English temennya yang salah, suka cerewet maki-maki orang kalo lagi bawa mobil, suka sok-sok marahin gue kalo gue sengaja gak mau makan biar kurus,...

Above all else, sangat suka membantu orang lain terutama temen-temen deketnya.

Pendenger yang baik, penasihat yang handal, temen yang bisa diandelin di saat susah, suka bikin gemes kalo rasa rendah dirinya kumat, nggak keberatan kalo gue nasihatin dengan kata-kata keras yang cenderung kejam, enggak keberatan kalo gue jutekin kalo gue lagi males bersosialisasi sama sesama umat manusia, enggak keberatan kalo dimarahin akan kepelupaannya, enggak keberatan punya temen orang sarkastik kaya gue yang sering bermulut silet ke orang laen...

suka engga percaya kalo dibilangin bahwa dia itu temen yang amat berharga buat sesama temen-temennya yang lain.

Dia semacem pintu gue bahwa ada circle lain di luar dunia advertising.

Dia simply... my best friend.

Kok jadinya kaya bikin testimonial buat friendster gini ya 'Yo? Hihihi..oh well, kan gue gak bisa akses friendster anyway, gini..elo copy terus paste di friendster elu aja gimana?

Walau... ada kalanya orang ngalamin masa-masa susah dimana dia harus menghadapi apa yang dia hadapi itu sendirian. Dan terima enggak terima, gue harus terima bahwa dia memang lagi kudu menjauh dari gue.

Gue sampe gak tau lagi gimana musti ngegambarin dengan kata-kata bahwa gue bakal sangat sangat keilangan elo, Yo.



Wuaaaaaah...perubahan-perubahan terusss..bertubi-tubi... Ternyata seorang chibi itu walau menganggap dirinya makhluk soliter adalah makhluk sosial juga ya... Gue sadar bahwa roda kehidupan itu jalan terus (ciee..). Orang dateng dan pergi di kehidupan gue, bahkan gue mungkin datang dan pergi di kehidupan orang laen. Sekarang gue baru sadar makna penting dari ungkapan "the other half".

Kehidupan gue bisa berubah-rubah, tapi at least tetep ada satu yang stay terus.

Gue bersukur bahwa kamu adalah satu-satunya hal stabil di hidup gue. Let's keep it that way, ya... :)

Jan. 17th, 2006

muka

bugils.

Image hosted by Photobucket.com


Pertama kali ngedenger nama ini, yang kebayang pasti hal-hal ngeres seperti majalah FHM atau KoNak.

Ternyata ini adalah nama sebuah pub di kawasan Taman Ria Senayan. Enggak ekslusif, tapi nggak banyak juga yang tau. Yang memperkenalkan gue ke tempat ajaib ini (Bugils sendiri adalah singakatan dari 'Bule Gila' secara jamak) adalah Caei, temen gue di Ogilvy jaman dulu yang sekarang udah happily married di Inggris.

Anyway, tempat ini ajaib karena dia nyempil sendiri di tengah-tengah gedung besar seperti Embassy, TGIF, restoran Bebek Bengil, Millenia, dan tau apa lagi. Lokasinya unik karena terasnya menghadap ke danau dengan bangkai kapal (dulunya restoran yang udah bangkrut). Dari namanya, udah ketauan kalo Bugils ini regular costumernya adalah expatriat yang mencari bir, snack, dan cewek lokal sexy (yang kebanyakan adalah mbak-mbak waitress-nya). Harga makanan dan minumannya enggak murah, tapi juga gak semahal bar elit kayak Burgundy gitu. Snack doang sih 2o sampe 30 ribuan. Bir 35 ribu segelas. Kalo wine ama liquer ya di atasnya.

Hari ini team creative yang nge-handle Nestle lagi ngerasa eneg sama suasana kantor. Kita lalu berpikir untuk nyari alternatif tempat dimana kita bisa menghirup udara segar, mumpung udara Jakarta masih sejuk setelah hujan deres seharian.

Maka ketika gue melontarkan ide untuk brainstorming di Bugils, Glenn sama Anggi (yang belum pernah ke situ) tertarik dengan deskripsi gue mengenai "Pokoknya ada tempat duduk-duduk di luar, pake payung, dan view-nya danau"

Dan bertolaklah kita ke sana.

Seperti yang udah gue duga, Glenn sama Anggi awalnya shock dengan performance mbak-mbak waitress yang ehm...selera bule banget deh...Baju tank top ketat sama jeans melorot sih bukan kostum yang gimana banget buat kita orang-orang advertising (ya sehari-hari mah di kantor yang pake baju gitu juga banyak), tapi auranya itu loh..somehow beda, dan keluarnya emang template typical, kulit sawo matang, badan kurus, rambut panjang tergerai, dan special bra yang bisa bikin toket terlihat kenceng sampe ada belahannya. Wuih...

Ada satu mbak-mbak yang ngelayanin meja kita, waktu dateng sambil ngebawain bitterballen pesenan Anggi, dia abis ngemil sesuatu yang tangannya kotor dengan sisa-sisa cemilannya itu. Maka dia membersihkan jarinya dengan..engg..ya dijilat gitu cuman cara ngejilatinnya bikin gue, Anggi ama Glenn liat-liatan penuh arti sambil nahan ketawa. In a way kita jadi inget adegan bokep di film-filmnya Asia Karera di bagian Mbak Asia lagi ngasih oral service. Mmm..kenapa ya?

Tapi mbak-mbak tersebut (later on, kita ngasih dia nick name "Mbak Jari") ramah banget kok. Diajak ngobrol sedikit, meluncurlah kata-kata dari mulutnya. Dengan baik hatinya, dia bahkan ngasih liat kita kalender buatan Bugils yang baru. Model-model di kalender tersebut adalah para mbak-mbak waitress tadi, dandan heboh pake baju minim dengan tampang sexual. Hmmm..menurut gue, si owner Bugils emang punya marketing strategic yang bagus banget dalam memantain regular customernya, dengan memanfaatkan sumber daya yang dia punya. Bahkan dia pun bisa dapet side income dari calender tersebut (calender tadi harganya 50 ribu satunya).

Overall, tempat itu nyaman untuk duduk-duduk lama .Kita bertahan di sana dari jam 3 sore sampai jam 6-an ketika para oom-oom bule office worker yang sepertinya regular customer mulai berdatangan. View-nya bagus, makanannya surprisingly enak, dan mbak-mbak waitress cantik yang ajaib itu bisa jadi bahan obrolan menarik buat selingan. Cuman sedikit nasehat, kalo dateng sebelum jam 4 kita nggak bisa order makanan soalnya kokinya belom dateng...

Alternatif lumayan selain Starbucks tuh :P

Jan. 16th, 2006

nunduk

epilog.

Image hosted by Photobucket.com


cowok : gue seneng banget weekend ini
cewek : iya, gue juga
cowok : boy, we had fun!
cewek : yup! we should do it more often, you know...
cowok : iya
cewek : hey...
cowok : apa?
cewek : thanks ya :)

Jan. 13th, 2006

school

temukan bedanya

Pembicaraan sepasang kekasih yang baru jadian:

Cewek : Sayang, kamu jadi kan ke Jakarta malam ini?
Cowok : Aduh sayang, maaf..pekerjaanku belum selesai. Tapi pasti besok subuh aku berangkat.
Cewek : Oooh..ya sudah...
Cowok : Aduh aku capek banget
Cewek : Oh sayang, kamu jangan lupa istirahat dan makan yang cukup dong
Cowok : Iya kok yang, jangan kuatir deh...
Cewek : Ya sudah, sampe ketemu besok yaaa..
Cowok : Iya...I miss you so much
Cewek : I miss you, too.. *cup cup*
Cowok : I miss you, too... *cup cup*



Pembicaraan sepasang kekasih yang udah 7 tahun jadian:

Cewek : Lo jadi ke Jakarta malem ini?
Cowok : Nggak euy, propsnya belom selesei.
Cewek : Ooh.. Jadi besok? Photo shoot-nya besok kan?
Cowok : Iya..gue kejer subuh deh. Aduh capek banget.
Cewek : Iya lah pasti...
Cowok : Gue takut kalo malem ini dipaksain berangkatnya malah ngantuk di jalan
Cewek : Ati-ati ya entar lo di jalan!
Cowok : Eh, lo tau alamatnya Artli gak
Cewek : Lha..enggak! Emang elo gak tau?
Cowok : Ga ada yg ngasi tau gue..Mereka assuming gue tau kali ya?
Cewek (ngakak) : Dan elo assuming gue tau?
Cowok : Lha yang sering motret ama Artli kan elo?
Cewek : Gue pan tiap photo shoot selalu merem kalo ke tempat photographer, selalu nebeng ama orang, mana gue tau jalan. Studio Artli di entah berantah pula jauhnya.
Cowok : oooh...
Cewek : Ya entar gue tanyain ke bagian traffic deh. mereka pasti punya tempatnya. Besok pagi lo mampir ke tempat gue aja dulu buat ngambil petanya. Eh, gue gak boleh ikut kan? politically incorrect karena gue orang agency laen kan?
Cowok : hmmm..dilema dilema...
Cewek : *ngikik* ya sutralah...
Cowok : Oke..
Cewek : Sok kerja lagi gih, biar kelar
Cowok : Oke
Cewek : Deeeh...
Cowok : Deeeh...

Jan. 12th, 2006

school

album.

Image hosted by Photobucket.com


Waktu gue lagi nyari2 gambar buat reference di folder-folder lama gue, tiba2 gue nemu satu folder yang tulisannya "foto-foto kantor", di luar folder "foto-foto Sony cam", artinya itu foto2 gue yang udh banget dari jaman dahulu kala, di kala gue belom punya digital camera. Pasti sumbernya minta sana minta sini, bahkan ada hasil scan-an segala (hihihi..inget gak jaman kita masih bilang "ikut nyetak doong" instead of "eh, email gue file-nya dong")

Walau kerjaan masih banyak, tak urung gue iseng nge-cek isi folder tersebut, dan yang ada gue cekikikan sendiri, ngeliat foto-foto yang umurnya udah 2 tahun lebih itu. Boy!!!..banyak banget hal yang bisa berubah dalam kurun waktu 2 tahun ya..?

Kayak gimana foto-foto tersebut? Yuk mariii kita bersama-sama mengunjungi chibi_alfa dan teman-temannya sekitar 3 tahun yang lalu. pasang seat-belt, pegangan kuat-kuat...aaand...

Jan. 11th, 2006

muka

(no subject)

Kalau ada yang nanya ke gue, "Elo kerja di mana sih?"

Terus gue jawab, "Advertising.."

Terus orang itu bilang,"Wow..keren..pasti elo sering kerja sama model doong..."

Maka paling gue akan bilang,"Ah, biasa aja..gue gak gitu peduli ama model, buat gue mereka cuman object belaka"

(jawaban sok cuek supaya keliatan keren..huhuhu)

On the other hand, kerja di advertising memang menyenangkan. Banyak sih gangguan seperti gangguan jiwa akibat lembur berkepanjangan, gangguan ekonomi akibat gaji pas-pasan (ehm..kalo ada bos-bos yang baca blog gue ini, harap bagian ini dihighlite ya bos... :P), gangguan rumah tangga akibat jarang ketemu keluarga, dsb (kalo diterusin bablas curhat deh). Tapi ada kalanya juga kok kita bisa bersenang-senang. Misalnya kalo lagi ada production, walau melelahkan teteep aja ada cara buat hepi hepi joy joy bergembira ria. Dari mulei hal2 kecil gak penting seperti banyak makanan, sampai hal-hal gede seperti misalnya...kerja ama film director yang cakep berat..huehehehe...

Hal itu gue alamin setaun lebih yang lalu. Waktu itu gue kerja ama director bule ostrali, namanya Tony Redman. Mungkin pernah liat di tivi, iklan Dove dimana ada cewek yang mandi pake sabun terus ceweknya berubah jadi kaca? Nah, menurut gue iklannya sih jadinya biasa aja (iklan beauty pake product demo..what do you expect, huh?), tapi production value-nya mayan rapih..dan proses kerjanya menyenangkan karenaaaa..directornya GANTENG berat...huhuhu...

Image hosting by TinyPic
Tony Redman


Selain ganteng (Aldo, kamu kalo baca ini jangan cemburu ya, kesukaanku padanya cuma sebatas fans belaka kok..kayak hubunganku ama Takeshi Kaneshiro gitu deh..bagai bumi dan langit..*winkwink*..hihihi), gue suka kerja ama dia soalnya dia baek banget dan amat kooperatif, dan tidak sombong, dan pintar pula. Yang nyebelin, dia udah punya cewek, artis Singapore yang kece berat juga..*sigh*...Ya sutralah namanya juga ngefans doang.

Setelah produksi iklan Dove tersebut, Tony beberapa kali kerja bareng kantor gue. Mungkin ada yang pernah liat iklan Sprite dimana anak2 SMA lagi kepanasan terus mereka minum sprite terus tanah di bawah mereka berubah jadi air dan mereka pun nyemplung dan berenang-renang? Yep..itu dia yg bikin. Mungkin ada pula yang inget iklan Sprite dimana banyak orang2 yang terbakar terus ada yang minum Sprite yang api di badannya berubah jadi es batu? Idem..dia juga yg bikin..Inget pula iklan Pond's dimana ada Ibu Guru taman kanak-kanak yang kece berat tapi mukanya iritasi? idem...Inget iklan Pond's laen dimana ada cewek yang nyamar jadi orang india di toko kain gara2 malu mukanya jerawatan? Yak tul..itu dia juga directornya.

Selaen laku di kantor gue, namanya mayan berkibar di kantor advertising agency yg laen. Seinget gue, dia pernah bikin Sampoerna Ijo yang versi bioskop, yang ada orang kebelet pipis tapi waktu dia pergi, tokoh di filmnya nahan dia, terus juga dia yang bikin iklan lux yang pake keempat bintang Lux di pesawat jet pribadi itu....

Eniwei.. sebelum blog ini jadi kayak resume hidupnya Tony Redman..Well yeah, kembali ke kesenangan2 kerja di advertising, emang udah lama banget gue gak kerja ama dia. Tapi kalau dia lagi ada project ama kantor gue, tentunya ada prepro meeting toh... Maka gue (bersama dengan temen2 cewek gue yang sama2 ngeidolain dia) pasti bakal curi-curi kesempatan buat say hi (huuw..bilang aja pengen megang tangannya! norak lu fa!), atau hahahihi gak penting, atau paling sial sekedar curi-curi pandang dari luar ruang meeting.

Hari ini kesempatan itu terulang lagi, berhubung dia lagi ada prepro meeting juga ama team laen (sayangnya bukan team gue..huhuhuuuuw..Glenn..pengen kerja ama Tony lagi..Glenn...hwaaaaaa). Temen gue, Cumi, yang emang kerja jadi asisten producer di production house yang ngehandle Tony, nge-sms gue dengan kebanggaan luar biasa "Eh..eh..gue duwoooong lagi ama Tony di depan.."

Maka dengan semangat menggebu-gebu gue pun langsung menerjang semua rintangan menuju ke lobby kantor gue. Untung hari ini daku lagi agak2 dandan pake baju terbuka-buka atas bawah kiri kanan depan belakang (lha??!!! itu mah telenji kalee...) The moment gue menghampiri mereka (Tony, Cumi, producer, ama executive producer)..guenya sendiri yang ling lung terbata-bata gak tau mo ngomong apa, terkena syndrome lutut lemes, keringat dingin, dan muka nyengir lebar jelek banget untuk menyembunyikan kegrogian di hati ini...huaaaaah....

Biarin..pokoknya bisa ngejabat tangannya Tony..huhuhuhu.....basi lo Fa!

yah gitu deh...kadang-kadang kerja di advertising memang menyenangkan..huehehehehe....*ngikik kecentilan*

Jan. 10th, 2006

window

Ujar seorang Alfa kepada Chibi

Pernah nggak elo berada di suatu kondisi dimana hati elo memerintahkan elo untuk mencak-mencak dan berteriak marah untuk nunjukkin bahwa elo punya point yang menurut elo bener, dan itu amat principal sehingga nggak ada seorang pun di dunia ini yang bisa membuat elo merubah pandangan elo terhadap hal itu, kecuali diri elo sendiri.

(artinya: ketika elo adalah orang yang keras kepala)

Lalu, di kondisi itu ada orang yang harus elo hadapi yang bikin elo jengkel karena keliatannya dia nggak bisa nerima point elo tersebut, lalu berbalik marah dan jengkel sama elo karena saat itu dia lagi sensitif, dan at the end..elo jadi kayak bad guy-nya di situasi tersebut.

Pilihan yang bisa elo lakuin ada 2:
1. Marah, mencak-mencak, keluarin semua perbendaharaan kata yang bisa menyakiti dia sekaligus ngasih liat bahwa point elo bener.
2. Menarik nafas panjang, telen semua ego dan pride yang elo punya, lalu mengakui bahwa elo salah (walau hati lo berkata sebaliknya), meminta maaf, dan bersikap sopan untuk menghindari keributan-keributan yang bisa terjadi kemudian, dan berpura-pura bahwa semua ini sudah berakhir dengan baik-baik saja.

Kalau elo belom dewasa, elo bisa milih point nomer satu. Kalau misalkan udahannya ada keributan, musuhan, diem-dieman, elo bisa minta maaf kemudian, dan kalau elo dan orang itu udah baekan, at least elo udah lega bisa mengeluarkan hal-hal yang mengganjel di hati elo tersebut, dan elo hepi karena elo tetep bisa jadi diri elo sendiri.

Kalau elo memilih untuk tetap bersikap dewasa, maka seharusnya elo melakukan point nomer dua. See..jadi diri sendiri itu boleh banget, tapi elo harus inget bahwa elo hidup bersama manusia-manusia lain di dunia ini, dan unless elo mau dicap sebagai orang autis, ada saatnya elo harus fleksibel dengan manusia-manusia lain dengan keajaiban mereka masing-masing itu.

Hati elo mungkin tereak keras-keras "BUT THIS IS NOT MYSELF..I HATE PRETENDING LIKE THIS"

Poin taken. It does suck untuk berpura-pura, apalagi di saat itu elo harus menelan ego elo (apalagi kalo ego lo gede banget). Saat ini mungkin elo kesel. Tapi kekesalan elo itu semuanya berasal dari ego. Coba tinggalin ego elo dulu di rumah, lalu tarik diri elo untuk ngeliat situasi keseluruhannya. Apakah masalahnya sebenernya sebesar itu?

Enggak sih..

Maka jangan dipikirin lagi. Walau dari luar keliatannya elo mengalah, sebenernya elo adalah pemenangnya, karena elo udah memilih jalan yang paling nyebelin untuk kebaikan kedua belah pihak. Elo udah memilih untuk mulai jadi dewasa.

it sucks..jadi dewasa

Iya, tau... Siapa bilang jadi dewasa itu gampang? Tapi ketika elo berhasil lakuin itu, apa yang elo rasain?

emmm...walau tetep jengkel, sebenernya gue ngerasa sedikit bangga..

See? Lama-lama elo akan terbiasa kok...

Terbiasa untuk mengalah?

Bukan. Tapi terbiasa untuk mengambil keputusan yang enggak melulu berdasarkan apa yang hati elo suruh.

Hmm...Iya sih..thanks ya..

No problem. You learn new things everyday...

Jan. 9th, 2006

school

Selamat Hari Kejepit Nasional!!!

Hari ini hari yang lucu.

Bangun jam 6 pagi dan HEBAT BANGET gue nggak ketiduran lagi. Bangun, masak air buat mandi (hoho..yeah..anak kos boleh anak kos..mandi aer panas jalan teruuusss..berkat poci-poci listrik ajaib gue), ngopi, dan totally alert!

Padahal tadi malem gue baru tidur jam setengah tigaan gara2 ngerjain pe-er kantor.

Jam 8 TENG gue udah berangkat. Berangkat pagi itu jauh lebih menyenangkan daripada berangkat jam setengah sebelas siang. Matahari masih miring, uadara sejuk, burung bernyayi...tralala lililili....

Sampai kantor tanda-tanda kehidupan di creative cuma ada di meja Bambi yang terletak di sebelah meja gue. Sebagai orang bersepeda ke kantor (yep, aliran penentang bensin demi melestarikan lingkungan..gak ding! suka sport aja...), dia selalu ada paling pagi di kantor, kadang-kadang balapan sama Roy, boss gue yang juga morning person.

Tapi hari ini gue boleh bangga jadi orang nomer dua pagi ini di divisi creative.

Cek-cek email..cek-cek lj, haha hihi ngak ngek ngok gak penting ama Bambi, pagi ini gue mulai dengan PAGI banget. Glenn yang gue temui di MSN messenger sampe takjub (dia masih di rumah, belom mandi, dan malah males2an berinternet ria).

Sebenernya gue dateng pagi karena mau ngerjain pe-er lain yg belom kelar.

Lagi khusyuk2nya ngerjain pe-er..tiba2 gue diganggu ama kerjaan yang bukan kerjaan gue (waktu itu gue bantuin dikit doang), mendadak, mendesak, dan..harus dikerjain saat itu juga! Urgh..maka walau sambil menyalak-nyalak pun gue kerjain deh...

Siangnya internal (pe-er yg gue kerjain pagi2 itu), dan dibabat abis ama cretive director gue..huhuhu..start from scratch deh...gokil!

Lalu, gue dapet telfon dari luar negeri. Uih..siapa nih..? udah ge-er aja jangan2 Takeshi Kanishiro mau ngajak gue dinner, taunya Steffen, photographer yg kemaren abis gue kirim brief buat picth next photoshoot. Gue udah lupa betapa cepetnya orang itu kalo ngomong (tambahan lagi, aksen Jerman kentelnya itu ganggu banget), maka dari 80 persen conversation yang didominasi oleh tereakan gue "I beg your pardon??? Speak slower, Steff!!!", 20 persennya gue nangkep kalo dia udah liat brief yang gue kirim, dan reference yang gue attach di situ dibuat oleh seorang photographer yang ternyata asal jerman (bukan Ibu jereng Bapak preman!) juga. Saking pengennya dapet project ini, dia bela-belain mau nelfon sang photographer tersebut untuk nanya2 soal tekhnis yang dia pake. Wuih..gue sampe terharu..padahal belom tentu juga client gue mampu buat bayar dia getoo..hehehe...

Setelah makan siang, tiba2 alergi gue kambuh. Badan gue gatel2 parah tanpa sebab. Nelfon bokap buat dapet 'resep online'. Obatnya ampuh banget sih, tapi sebagai efek sampingnya, setengah hari ini gue teler edan..on drugs abessss...

Saat yang sama, Glenn bilang kalo dia abis cek darah, dan hasilnya mengkhawatirkan, bisa jadi livernya kambuh lagi. Mampyuss...copywriter gue masih tepar di rumah sakit gara2 demam berdarah, art director satu lagi juga sedang tepar akibat disentri (gak keren lu Mel!), Mbak Fien (traffic team gue) lagi recovery abis dioperasi rahimnya, dan gruphead gue calon bedrest lagi...so akhirnya sore itu Roy kepaksa meeting ama third party cuman bareng gue yang lagi on drugs berat. Cihuy... keren banget ya kehidupan advertising dan orang-orang penyakitannya ini..hwahahaha...*ketawa getir*

Hasil meeting itu, kerjaan yang lagi gue kerjain dan bakal dipresent Rabu besok ini jadi tambah buanyaaaaak banget. Tapi karena lagi teler, gue hepi hepi joy joy aja 'nelen'nya. Bodo aaah..mau banyak juuug kerjain, biar besok Idul Adha kudu lembur ya juuug lembur...

Lalu sambil terkantuk-kantuk kerjaan segubrak ini gue kerjain juga...sendiri..all by myself..Celine Dion pisan lah pokoknya!

Barusan gue turun ke bawah beli nasi goreng. Di lobby dicegat satpam basa-basi sok kenal sok deket sok asik.

Satpam : Nunduk ajeeee jalannya..
Gue: cengengesan sopan.
Satpam : Belom pulang niiih udah larut malem gini?
Gue : cengengesan sopan...

TIBA-TIBA

gue berbalik, enggak terima dengan basa-basinya sebodo amat dia tuh cuman sok ramah doang kek, sok deket doang kek...

Gue : Bapak...Bapak liat ini saya baru beli apa?
Satpam : Makan malem ya Non..?
Gue : Artinya..?
Satpam : Artinya ya enon mau makan..???
Gue : BETUL! and itu artinya saya akan pulang lebih larut dari kata larut ini sendiri. Bapak tau besok hari apa?
Satpam : Eng..Idul Adha, non..
Gue : BETUL! Bapak tau besok saya ngapain? Apakah saya berkumpul bersama keluarga saya di Bandung? Shalat Ied bareng mereka, lalu ikut menyembelih kurban (yeah walow saya gak pernah tega sih liat kurban disembelih dari jarak deket), lalu makan sate bareng-bareng???
Satpam : euh...
Gue : Jawabannya adalah..tidak, tidak, tidak, dan TIDAAAAK....

Camera zoom in ke mulut gue yang lagi terbuka lebar.
Fade to black.

Fade in.
Kembali ke situasi gue lagi cengengesan sopan ke satpam itu sambil berjalan menuju lift, dengan nasi goreng di kanan kanan. Yeah well...ada kalanya ngehayal itu bikin perasaan lebih enak tanpa harus menyakiti org laen..toh??? Lagian kalo dipikir-pikir tu satpam juga jaga sampe pagi di malem sebelum Idul Adha ini, sehingga belom tentu besok dia bisa shalat Ied. Impas juga sih kalo dipikir2..

Dan kemudian gue lembur lagi sampe sekarang.

Yeah overall...hari ini enggak lucu-lucu amat sih...Mungkin karena gue masih sedikit punya efek on drugs kali yee :P

WUAAAH..TIDAAAAK...kerjaanku...MASIH BANYAAAAK!!!!

Jan. 8th, 2006

school

Jangan nilai aku dari handphoneku

Image hosted by Photobucket.com


Suatu malem, HP gue (yak, gambar di atas adalah HP gue) penyakit lamanya error. Di layarnya ada tulisan 'sim card error', not a big deal, yang musti gue lakuin cuman ngeluarin terus masukin kartunya lagi. Waktu gue lagi nyari2 coin (buat ngebuka belakangnya), temen gue (yang HPnya smart phone yang canggih beneeer) komentar "Elo gak mau ganti HP ya?".

Gue (yang sebenernya kesel banget), ngejawab, "Nanti, kalo udah punya iPod video".

Temen gue (yang kagak ngarti kalo ini issue sensitif buat gue) keukeuh, "tapi HP kan lebih penting, buat komunikasi".

Gue (yang makin kesel), jawab,"Lha komunikasi itu cuma nelfon ama sms kan? HP gue ini masih bisa kok buat nelfon ama sms".

Yep, dari awal punya HP tujuh taun yang silam, gue baru dua kali ganti HP. HP gue yang pertamaaa banget motorola yang kayak sepatu hak gedenya. Kalo komentar temen2 gue sih, kalo dilempar ke anjing, anjingnya mati. Tapi gue gak ada keluhan tu ama HP itu. Bahkan gue agak nyesel ngejual ke temennya nyokapnya cowok gue seharga 150 ribu perak. Coba kalo masih ada, wuih, vintage beneer...HP gue yang kedua adalah siemens yg diwarisin dari Bokap gue. Gak sebesar yg motorola gue, tapi lebih panjang (kalo dilempar ke anjing, anjingnya cuman pingsan). Gue juga suka ama tu HP. Suaranya jernih, megangnya enak (dikarenakan gede). Gue baru ganti HP itu itu juga empat taun yg lalu, awal2 gue baru pindah ke Jakarta, dan itupun karena nyokap-bokap gue mau ngebeliin gue hadiah ulang taun HP. Maka si Siemens m35 merah inilah HP gue sampe sekarang.

Gue cinta banget sama HP ini. karena gue suka warna merah, dan karena desainnya 'ramah', bulet2 gitu. bahkan sampe detik ini, dimana buat orang2 lain kayaknya HP ini udah ketinggalan jaman, buat gue dia masih tetep lucu dan ramah. Banyak suka duka yang udah gue lalui sama HP ini. Pernah kecebur di kolam renang sampe korslet (dia, bukan gue), tapi bisa bener hanya dengan dikeringin doang. Berkali2 jatoh tapi tetep kuat, dan suaranya juga jernih.

Ya memang, kadang2 sim card-nya error, ya memang, layarnya enggak berwarna, enggak bisa buat motret, enggak bisa pake ringtone MP3, enggak bisa macem2 laen yang canggih-canggih. Nggak up to date ama gadget masa kini deh.

Buat gue, gak masalah. Mungkin prioritas gue ama orang2 laen tu beda ya? Gue bukan jenis orang yang setan HP, tiap ada model baru kudu diganti. Tambah feature dikit kudu diupgrade. Kalo dibilang gaptek gadget, ya gak juga sih. Gue demen gadget, sebates itu dikeluarin ama pabrik gambar buah (baca: Apple). Gue rela spend 10.8 juta buat beli powerbook second (nyicil sih ama nyokap, tapi udh lunas), gue pengen buanget punya iPod video. Gue kredit kamera digital Sony (udah lunas juga...), karena itu kepake banget di kerjaan gue, buat layout, atau emang karena hobi gue motret. Kalo belom mampu beli iPod, gue gak keberatan buat punya MP3 player buatan cina yang murah meriah, sekalian bisa dipake buat flash disk transfer2 data.

Intinya, hidup gue udah cukup bahagia tanpa harus keep up dengan gonta ganti HP.

Kalo orang yang memandang gue rendah adalah orang yang gak kenal gue, seperti tukang pulsa telfon yang pernah negor gue "idih, HPnya kok masih yang gini sih, Mbak?"...gue gak peduli. Malah gue kesian ama si mas tukang pulsa itu, walow HP dia lebih canggih dari gue, belom tentu dia punya powerbook atau 4 megapixel digicam kaya gue kan? Jadi ya gak gue ambil pusing.

Tapi kalo yang ngeributin itu adalah temen gue, hanya karena dia makhluk gadget (dan gadgetnya termasuk HP), maka gue sebel. Kenapa sih? malu punya temen ber-HP oldiest kayak gue? ya gak usah temenan ama gue aja! Gue juga gak pernah tu bilang ke orang yang pake PC, "gak mau ganti aja jadi Macintosh ya?". Ngapain juga...

Dan..gue adalah orang yang punya emotional attachment ama barang. Biar cuman barang, tetep kita harus berterima kasih ama apa yang udah dia lakuin ke kita, jangan taking it for granted gitu dong. Gue, mewakili HP gue yang baik, lucu dan ramah ini, merasa tersinggung dengan pandangan melecehkan dan pertanyaan "gak mau ganti HP ya?"

UUUUUUUrrrrghhhh!!!!!!!

Previous 20

school

November 2007

S M T W T F S
    123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930 

Advertisement

Syndicate

RSS Atom
Powered by LiveJournal.com